Minggu, 01 Mei 2011

KONSEP DASAR KESEHATAN KELUARGA


TUGAS KEPERAWATAN KELUARGA
KONSEP DASAR KESEHATAN KELUARGA









OLEH :
DIAN MALIDA RAMADHINI
08.10.069.401.021
TINGKAT : III B




AKPER TELANAI BHAKTI JAMBI
TAHUN 2010 / 2011





DAFTAR ISI


DAFTAR ISI  ..........................................................................................................
PENDAHULUAN...................................................................................................
            Latar belakang.............................................................................................
            Tujuan .........................................................................................................
PEMBAHASAN......................................................................................................
Defenisi ......................................................................................................
Sistematika .................................................................................................
Fungsi ........................................................................................................
PENUTUP.............................................................................................................
Kesimpulan................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................



















PENDAHULUAN

*     Latar Belakang
keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang berkumpul dan tinggal di bawah 1 atap dalam keadaan saling ketergantungan. ( Depkes RI 1988)
Perawatan kesehatan merupakan suatu lapangan khusus dibidang kesehatan, dimana keterampilan hubungan antar manusia serta keterampilan organisasi diterapkan dalam hubungan yang serasi dengan keterampilan anggota profesi kesehatan lain dan tenaga social, demi memelihara kesehatan keluarga. Oleh karena itu, perawatan kesehatan masyarakat ditujukan kepada individu, keluarga, dan kelompok melalui upaya peningkatan kesehatan, pemelihara kesehatan, penyuluhan kesehatan, koordinasi, dan pelayanan keperawatan berkelanjutan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif.
            Praktik keperawatan profesional di artikan sebagai bentuk penampilan dari hasil tindakan observasi, asuhan dan konseling dari kondisi sakit, cidera atau ketidakberdayaan atau upaya dalam mempertahankan kesehatan atu mencegah terjadinya penularan penyakit atau upuya dalam pengawasan dan pengajaran pada staf atau dalam pemberian medikasi dan pengobatan sesuai yang diresepkan oleh dokter atau dokter gigi, kebutuhan dari penilaian dan keterampilan spesialis tertentu dan berdasarkan pada pengetahuan dan aplikasi prinsip-prinsip ilmu biologi, fisika, dan social. ( ANA,1995)

*     Tujuan
Tujuan keperawatan keluarga adalah untuk pencegahan dan peningkatan kesehatan keluarga melalui upaya-upaya sebagai berikut :
·         Pelayanan keperawatan secara langsung (direct care) terhadap individu, keluarga, dan kelompok dalam konteks komunitas.
·         Perhatian langsung terhadap kesehatan seluruh keluarga dengan mempertimbangkan permasalahan atau isu kesehatan keluarga yang dapat memengaruhi keluarga, individu, dan kelompok.


Selanjutnya, secara spesifik diharapkan individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat mempunyai kemampuan untuk :
·         Mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami
·         Menetapkan masalah kesehatan dan memprioritaskan masalah tersebut
·         Merumuskan serta memecahkan masalah kesehatan
·         Menanggulangi masalah kesehatan yang mereka hadapi
·         Mengevaluasi sejauh mana pemecahan masalah yang mereka hadapi, yang akhirnya dapat meningkatkan kemampuan dalam memelihara kesehatan secara mandiri.
















PEMBAHASAN

*     Defenis
Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai sarana / penyalur.
Standart praktik keperawatan adalah norma atau penegasan tentang mutu pekerjaan seorang perawat yang dianggap baik, tepat dan benar yang dirumuskan dan digunakan sebagai pedoman pemberian pelayanan keperawatan serta merupakan tolak ukur penampilan kerja seorang perawat.

*     Sistematika / Cara kerja
Dalam melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh perawat , sebagai berikut :
*      Membina hubungan kerjasama yang baik dengan keluarga
*      Melaksanakan pengkajian untuk menentukan adanya masalah kesehatan keluarga
*      Menganalisa data keluarga untuk menentukan adanya masalah-masalah keseshatan dan perawatan keluarga
*      Menggolongkan masalah kesehatan keluarga , berdasarkan sifat masalah kesehatan keluarga;
*      Menentukan sifat dan luasnya masalah dan kesanggupan keluarga untuk melaksanakan tugas-tugas keluarga dalam bidang kesehatan
*      Menentukan / menyusun skala prioritas masalah kesehatan dan keperawatan keluarga,
*      Menyusun rencana asuhan keperawatan kesehatan dan perawatan keluarga sesuai dengan urutan prioritas
*      Melaksanakan asuhan keperawatan kesehatan keluarga sesuai dengan rencana yang disusun.
*      Melaksanakan evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang dilakukan;
*      Meninjau kembali masalah keperawatan dan kesehatan yang belum dapat teratasi dan merumuskan kembali rencana asuhan keperawatan yang baru.
*     Fungsi
*      Fungsi keagamaan
a)   Membina norma/ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh anggota keluarga
b)   Menerjemahkan ajaran/norma agama ke dalam tingkah laku hidup sehari-hari seluruh anggota keluarga
c)   Memberikan contoh konkret dalam hidup sehari-hari dalam pengamalan dari ajaran agama
d)   Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentnag keagamaan yang tidak atau kurang diperolehnya di sekolah dan dimasyarakat
e)   Membina rasa, sikap, dan praktik kehidupan keluarga beragama sebagai fondasi menuju Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
*      Fungsi budaya
a)   Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk meneruskan norma-norma dan budaya masyarakat dan bangsa yang ingin dipertahankan
b)   Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk menyaring norma dan budaya asing yang tidak sesuai
c)   Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga, anggotanya mencari pemecahan maslah dari berbagai pengaruh negative globalisasi dunia
d)   Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga yang anggotanya dapat berperilaku yang baik/positif sesuai dengan norma bangsa Indonesia dalam menghadapi tantnagn globalisasi
e)   Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras, seimabang dengan budaya masyarakat/ bangsa untuk menunjang terwujudnya norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.
*      Fungsi cinta kasih
a)   Menumbuhkembangkan potensi kasih sayang yang telah ada antar anggota keluarga (suami-istri-anak) kedalam symbol-simbol nyata (ucapan, tingkah laku) secara optimal dan terus menerus
b)   Membina tingkah laku saling menyayangi baik antar- anggota keluarga maupun antar keluarga yang satu dengan lainnya secra kunatitatif dan kualitatif
c)   Membina praktik kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan ukhrowi dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang
d)   Membina rsaa, sikap dan praktik hidup keluarga yang mampu memberikan dan menerima kasih saynag sebagai pola hidup ideal menuju Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
*      Fungsi perlindungan
a)   Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar keluarga
b)   Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis dari berbagai bentuk ancaman dan tantangan yang dating dari luar
c)   Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga sebgagai modal menuju Keluarga Kecil B ahagia Sejahtera
*      Fungsi reproduksi
a)   Membina kehidupan keluarga sebagai wahan pendidikan reproduksi sehat baik bagi anggota keluarga maupun bagi keluarga sekitarnya
b)   Memberikn contoh pengamalan kaidah-kaidah pembentukan kleuraga dalam hal usia, pendewasaa fisik maupun mental
c)   Mengamalkan kaidah-kaidah reproduksi sehat, baik yang berkaitan dengan waktu melahirkan, jarak antara dua anak dan jumlah ideal anak yang diinginkan dalam keluarga’
d)   Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal yang kondusif menuju Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
*      Fungsi sosialisasi
a)   Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluraga sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan utama
b)   Menyadari, merencanakan dan menciptakan kehidupan keluarga sebagai pusat tempat anak dapat mencari pemecahan drai konflik dan permaslahan yang dijumpainya baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat
c)   Membina proses pendididkan dan sosialisasi anak tentnag hal-hal yang diperlukannya untuk meningktakan kematangan dan kedewasaan (fisik maupun mental), yang tidak/kurang diberikan oleh lingkungan sekolah maupun masyarakat
d)  Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam keluarga sehingga tidak saja dapat bermanfaat positif bagi anak, tetapi juga bagi orang tua dalam rangka perkembngan dan kematngan hidup bersama menuju Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera
*      Fungsi ekonomi
a)   Melakukan kegiatan ekonomi baik diluar maupun di dalam lingkungan kleuarga dalam rangka menopang kelangsungan dan perkembangan kehidupan kleuarga
b)   Mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi kesrasian, keselarasan, keseimbangan antar apemasukan dan pengeluaran keluarga
c)   Mengatur waktu sehingga kegitan orang tua di luar rumah dan perhtiannya trehdap anggota kleuarga berjalan secara serasi, selaras dan seimbang
d)   Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modak untuk mewujudkan Keluarga Kecil Bhagia Sejahtera
*      Fungsi pelestarian lingkungan
a)   Membina kesdaran, sikap dan praktik pelestraian lingkunga iter keluarga
b)   Membina kesaradar, sikap dan praktik pel;estarian lingkungan ekstern keluarga
c)   Membina ksedaran, sikap dan praktik pelestarian lingkungan yang serasi, selaras seimbngan antar alingkungan keuarga dengan lingkungan hidup masyarakat sekitarnya
d)   Membina kesadaran, sikap, praktik pelestarian lingkungan hidup sebgai pola hidup keluarga menuju Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera.




PENUTUP

*      KESIMPULAN
Jadi, kesimpulannya adalah Keperawatan kesehatan keluarga adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan atau dipusatkan pada keluarga sebagai unit atau kesatuan yang dirawat, dengan sehat sebagai tujuan melalui perawatan sebagai sarana / penyalur.
Meskipun keperawatan telah didengung-dengungkan sebagai bentuk pelayanan yang profesional yang diberikan pada individu, keluarga, dan masyarakat secara umum. Namun pada kenyataannya pelayanan yang diberikan kepada keluarga masih jauh dari harapan mereka yaitu keinginan untuk dapat menikmati fasilitas pelayanan kesehatan secara manusiawi bai dari segi biaya maupun bentuk pelayanan langsung yang diberikan.
Pada hakikatnya setiap anggota profesi memiliki kemampuan terhadap kinerjanya dan harus dapat dipertanggung jawabkan akontabilitas membutuhkan evaluasi terhadap efektifitas kinerja yang ditampilkan seseorang sesuai tanggung jawabnya. 
















DAFTAR PUSTAKA


*      Effendi,Nasrul.2001.Dasar – dasar keperawatan kesehatan masyarakat edisi 2.penerbit buku kedokteran EGC: Jakarta
*      Wahit iqbal Mubarak, Bambang Adi Santoso, Khoirul Rozikin, Siti Patonah, (2006). Ilmu keperawatan komunitas 2. Terbitan: cv. Sagung seto, Jakarta
*      http://andimursyidah.wordpress.com/2011/02/02/konsep-dasar-keperawatan-keluarga/

imobilisasi pada lansia...akper telanai bhakti jambi


IMOBILITAS PADA LANSIA

KONSEP DASAR MOBILISASI
Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Tujuan mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas hidup sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma), mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non verbal. Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi dan immobilisasi berada pada suatu rentang. Immobilisasi dapat berbentuk tirah baring yang bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri, dan untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal yang mengalami tirah baring akan kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (atropi disuse).
Mobilisasi sangat dipengaruhi oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago, dan saraf. Otot Skeletal mengatur gerakan tulang karena adanya kemampuan otot berkontraksi dan relaksasi yang bekerja sebagai sistem pengungkit. Ada dua tipe kontraksi otot: isotonik dan isometrik. Pada kontraksi isotonik, peningkatan tekanan otot menyebabkan otot memendek. Kontraksi isometrik menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan klien untuk latihan kuadrisep. Gerakan volunter adalah kombinasi dari kontraksi isotonik dan isometrik.
Meskipun kontraksi isometrik tidak menyebabkan otot memendek, namun pemakaian energi meningkat. Perawat harus mengenal adanya peningkatan energi (peningkatan kecepatan pernafasan, fluktuasi irama jantung, tekanan darah) karena latihan isometrik. Hal ini menjadi kontra indikasi pada klien yang sakit (infark miokard atau penyakit obstruksi paru kronik).
Postur dan Gerakan Otot merefleksikan kepribadian dan suasana hati seseorang dan tergantung pada ukuran skeletal dan perkembangan otot skeletal. Koordinasi dan pengaturan dari kelompok otot tergantung dari tonus otot dan aktifitas dari otot yang berlawanan, sinergis, dan otot yang melawan gravitasi. Tonus otot adalah suatu keadaan tegangan otot yang seimbang. Ketegangan dapat dipertahankan dengan adanya kontraksi dan relaksasi yang bergantian melalui kerja otot. Tonus otot
mempertahankan posisi fungsional tubuh dan mendukung kembalinya aliran darah ke jantung. Immobilisasi menyebabkan aktifitas dan tonus otot menjadi berkurang.
  • Skeletal adalah rangka pendukung tubuh dan terdiri dari empat tipe tulang: panjang, pendek, pipih, dan ireguler (tidak beraturan). Sistem skeletal berfungsi dalam pergerakan, melindungi organ vital, membantu mengatur keseimbangan kalsium, berperan dalam pembentukan sel darah merah.
  • Sendi adalah hubungan di antara tulang, diklasifikasikan menjadi:
-     Sendi sinostotik mengikat tulang dengan tulang mendukung kekuatan dan stabilitas. Tidak ada pergerakan pada tipe sendi ini. Contoh: sakrum, pada sendi vertebra
-     Sendi kartilaginous/sinkondrodial, memiliki sedikit pergerakan, tetapi elastis dan menggunakan kartilago untuk menyatukan permukaannya. Sendi kartilago terdapat pada tulang yang mengalami penekanan yang konstan, seperti sendi, kostosternal antara sternum dan iga.
-     Sendi fribrosa/sindesmodial, adalah sendi di mana kedua permukaan tulang disatukan dengan ligamen atau membran. Serat atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan, dapat bergerak dengan jumlah yang terbatas. Contoh: sepasang tulang pada kaki bawah (tibia dan fibula)
-     Sendi sinovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendi yang dapat digerakkan secara bebas di mana permukaan tulang yang berdekatan dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligamen oleh membran sinovial. Contoh: sendi putar seperti sendi pangkal paha (hip) dan sendi engsel seperti sendi interfalang pada jari.
  • Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengkilat, fleksibel mengikat sendi menjadi satu sama lain dan menghubungkan tulang dan kartilago. Ligamen itu elastis dan membantu fleksibilitas sendi dan memiliki fungsi protektif. Misalnya, ligamen antara vertebra, ligamen non elastis, dan ligamentum flavum mencegah kerusakan spinal kord (tulang belakang) saat punggung bergerak.
  • Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengkilat, yang menghubungkan otot dengantulang. Tendon itu kuat, fleksibel, dan tidak elastis, serta mempunyai panjang dan ketebalan yang bervariasi, misalnya tendon akhiles/kalkaneus.
  • Kartilago adalah jaringan penghubung pendukung yang tidak mempunyai vaskuler, terutama berada di sendi dan toraks, trakhea, laring, hidung, dan telinga. Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer. Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut dan penyakit, seperti osteoarthritis.   
  • Sistem saraf mengatur pergerakan dan postur tubuh. Area motorik volunteer utama, berada di konteks serebral, yaitu di girus prasentral atau jalur motorik.
  • Propriosepsi adalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian tubuh tertentu dan aktifitas otot. Proprioseptor memonitor aktifitas otot dan posisi tubuh secara berkesinambungan. Misalnya: proprioseptor pada telapak kaki berkontribusi untuk memberi postur yang benar ketika berdiri atau berjalan. Saat berdiri, ada penekanan pada telapak kaki secara terus menerus. Proprioseptor memonitor tekanan, melanjutkan informasi ini sampai memutuskan untuk mengubah posisi.
Ø      Faktor yang mempengaruhi mobilisasi:
1. Sistem neuromuskular
2. Gaya hidup
3. Ketidakmampuan
4. Tingkat energi
5. Tingkat perkembangan
§         Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh.
§         Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan lumbal lebih nyata
§         Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot, ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.
§         Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit. Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas.
§         Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh sakit punggung.
§         Lansia: kehilangan progresif pada massa tulang total terjadi pada orangtua.
6. Kondisi patologik:
- Postur abnormal:
a.   Tortikolis: kepala miring pada satu sisi, di mana adanya kontraktur pada otot sternoklei domanstoid
b.   Lordosis: kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke depan/ anterior
c.   Kifosis: peningkatan kurva spinal torakal
d.   Kipolordosis: kombinasi dari kifosis dan lordosis
e.   Skolioasis: kurva spinal yang miring ke samping, tidak samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu
f.    Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior dan lateral
g.   Footdrop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki karena kerusakan saraf peroneal
-     Gangguan perkembangan otot, seperti distropsi muskular, terjadi karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot skeletal
-     Kerusakan sistem saraf pusat
-     Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal: kontusio, salah urat, dan fraktur.
Ø      Respon fisiologik dari perubahan mobilisasi, adalah perubahan pada:
-     muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan massa otot, atropi dan abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium
-     kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan pembentukan thrombus
-     pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik
-     metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan pencernaan (seperti konstipasi)
-     eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu ginjal
-     integument seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan
-     neurosensori: sensori deprivation
Ø      Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual, sensori, dan sosiokultural. Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku, perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping.

BAB II

PEMBAHASAN

1.    Mobilitas

Ø      GANGGUAN MOBILITAS FISIK
Definisi
Sutau keadaan keterbatasan kemampuan pergerakan fisik secara mandiri yang dialami seseorang.
Batasan karakteristik
  • Ketidakmampuan untuk bergerak dengan tujuan di dalam lingkungan, termasuk mobilitas di tempat tidur, berpindah dan ambulasi
  • Keengganan untuk melakukan pergerakan
  • Keterbatasan rentang gerak
  • Penurunan kekuatan, pengendalian, atau masa otot
  • Mengalami pembatasan pergerakan, termasuk protocol-protokol mekanis dan medis
  • Gangguan koordinasi
Faktor-faktor yang berhubungan
  • Intoleransi aktivitas
  • Penurunan kekuatan dan ketahanan
  • Nyeri dan rasa tidak nyaman
  • Gangguan persepsi atau kognitif
  • Gangguan neuromuskuler
  • Depresi
  • Ansietas berat
PENYEBAB
Berbagai kondisi dapat menyebabkan terjadinya imobilisasi, sebagai contoh:
Gangguan sendi dan tulang: Penyakit rematik seperti pengapuran tulang atau patah tulang tentu akan menghambat pergerakan (mobilisasi) Penyakit saraf: Adanya stroke, penyakit Parkinson, dan gangguan sarap Penyakit jantung atau pernafasan Gangguan penglihatan Masa penyembuhan
PATOFISIOLOGI
Keletihan atau kelemahan, batasan karakteristik intoleran aktivitas telah diketahui sebagai penyebab paling umum yang paling sering terjadi dan menjadi keluhan pada lansia. Imobilitas untuk sebagian besar orang tidak terjadi secara tiba – tiba, bergerak dari mobilitas penuh sampai ketergantungan fisik total atau ketidak efektifan, tetapi berkembang secara perlahan dan tampa disadari.
AKIBAT MOBILISASI     
mobilisasi dapat menimbulkan berbagai masalah sebagai berikut:
Ø      Infeksi saluran kemih
Ø      Sembelit
Ø      Infeksi paru
Ø      Gangguan aliran darah
Ø      Luka tekansendi kaku
Dampak masalah pada lansia
Lansia sangt renan erhadap konsekuensi fisiologis dn psikologis dari imobilitas. Perub ahan yang berhubungan dengan usia disertai dengan penyakit kronis menjadi predisposisi bagi lansia untuk mengalami komplikasi-komplikasi ini. Secara fisiologis, tubuh bereaksi terjhadap imobilitas dengan perubahan-perubahan yang hamper sama dengan proses penuaan, oleh karena itu memperberat efek ini. Suatu pemahman tentang dampak imobilitas dapat diperoleh dari interaksi kompetensi fisik, ancaman terhadap imobilitas, dan interpretasi pada kejadian.
PENATALAKSANAAN
  1. Pencegahan primer
Pencegahan primer merupakan proses yang berlangsug sepanjang kehidupan dan episodic. Sebagai suatu proses yang berlangsung sepanjang kehidupan, moblilitas dan aktivitas tergantung pada fungsi system musculoskeletal, kardiovaskuler, pulmonal. Sebagai suatu proses episodic pencegahan primer diarahkan pada pencegahan masalah-masalah yang dapat tmbul akibat imoblitas atau ketidak aktifan.
  • Hambatan terhadap latihan
Berbagai hambatan mempengaruhi partisipasi lansia dalam latihan secara teratur. Bahaya-bahaya interpersonal termasuk isolasi social yang terjadi ketika teman-teman dan keluarga telah meninggal, perilaku gaya hidup tertentu (misalnya merokok dan kebiasaan diet yang buruk) depresi gangguan tidur, kurangnya transportasi dan kurangnya dukungan. Hambatan lingkungan termasuk kurangnya tempat yang aman untuk latihan dan kondisi iklim yang tidak mendukung.
  • Pengembangan program latihan
Program latihan yang sukses sangat individual, diseimbangkan, dan mengalami peningkatan. Program tersebut disusun untuk memberikn kesempatan pada klien untuk mengembangkan suatu kebiasaan yang teratur dalam melakukan bentuk aktif dari rekreasi santai yang dapat memberikan efek latihan.
Ketika klien telah memiliki evaluasi fisik secara seksama, pengkajian tentang factor-faktor pengganggu berikut ini akan membantu untuk memastikan keterikatan dan meningkatkan pengalaman;
-          Aktivitas sat ini dan respon fisiologis denyut nadsi sebelum, selama dan setelah aktivitas diberikan)
-          Kecenderungan alami (predisposisi atau penngkatan kearah latihan khusus)
-          Kesulitan yang dirasakan
-          Tujuan dan pentingnya lathan yang dirasakan
-          Efisiensi latihan untuk dirisendiri (derajat keyakinan bahwa seseorang akan berhasil)
  • Keamanan
Ketika program latihan spesifik telah diformulasikan dan diterima oleh klien, instruksi tentang latihan yang aman harus dilakukan. Mengajarkan klien untuk mengenali tanda-tanda intoleransi atau latihan yang terlalu keras sama pentingnya dengan memilih aktivitas yang tepat.
  1. Pencegahan Sekunder
Spiral menurun yang terjadi akibat aksaserbasi akut dari imobilitas dapat dkurangi atau dicegah dengan intervensi keperawatan. Keberhasilan intervensi berasal dri suatu pengertian tentang berbagai factor yang menyebabkan atau turut berperan terhadap imobilitas dan penuaan. Pencegahan sekunder memfokuskan pada pemeliharaan fungsi dan pencegahan komplikasi. Diagnosis keperawaqtan dihubungkan dengan poencegahan sekunder adalah gangguan mobilitas fisik
  • Kemunduran musculoskeletal
Indikator primer dari keparahan imobilitas pada system musculoskeletal adalah penurunan tonus, kekuatan, ukuran, dan ketahanan otot; rentang gerak sendi; dan kekuatan skeletal. Pengkajian fungsi secara periodik dapat digunakan untuk memantau perubahan dan keefektifan intervensi.
  • Kemunduran kardiovaskuler
Tanda dan gejala kardivaskuler tidak memberikan bukti langsung atau meyaknkan tentang perkembangan komplikasi imobilitas. Hanya sedikit petunjuk diagnostic yang dapat diandalkan pada pembentukan trombosis. Tanda-tanda tromboflebitis meliputi eritema, edema, nyeri tekan dan tanda homans positif. Intoleransi ortostatik dapat menunjukkan suatu gerakan untuk berdiri tegak seperti gejala peningkatan denyut jantung, penurunan tekanan darah, pucat, tremor tangan, berkeringat, kesulitandalam mengikuti perintah dan sinkop
  • Kemunduran Respirasi
Indikasi kemunduran respirasi dibuktikan dari tanda dan gejala atelektasis dan pneumonia. Tanda-tanda awal meliputi peningkatan temperature dan denyut jantung. Perubahan-perubahan dalam pergerakan dada, perkusi, bunyi napas, dan gas arteri mengindikasikan adanaya perluasan dan beratnya kondisi yang terjadi.
  • Perubahan-perubahan integument
Indikator cedera iskemia terhadap jaringan yang pertama adalah reaksi inflamasi. Perubahan awal terlihat pada permukaan kulit sebagai daerah eritema yang tidak teratur dan didefinisikan sangat buruk di atas tonjolan tulang yang tidak hilang dalam waktu 3 menit setelah tekanan dihilangkan
  • Perubahan-perubahan fungsi urinaria
Bukti dari perubahan-perubahan fungsi urinaria termasuk tanda-tanda fisik berupa berkemih sedikit dan sering, distensi abdomen bagian bawah, dan batas kandung kemih yang dapat diraba. Gejala-gejala kesulitan miksi termasuk pernyataan ketidakmampuan untuk berkemih dan tekanan atau nyeri pada abdomen bagian bawah
  • Perubahan-perubahan Gastrointestinal
Sensasi subjektif dari konstipasi termasuk rasa tidak nyaman pada abdomen bagian bawah, rasa penuh, tekanan. Pengosonganh rectum yang tidak sempurna, anoreksia, mual gelisah, depresi mental, iritabilitas, kelemahan, dan sakit kepala.
  • Faktor-faktor lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien memberikan bukti untuk intervensi. Di dalam rumah, kamar mandi tanpa pegangan, karpet yang lepas, penerangan yang tidak adekuat, tangga yang tinggi, lantai licin, dan tempat duduk toilet yang rendah dapat menurunkan mobilitas klien. Hambatan-hambatan institusional terhadap mobilitas termasuk jalan koridor yang terhalang, tempat tidudan posisi yang tinggi, dan cairan pada lantai. Identifikasi dan penghilangan hambatan-hambatan yang potensial dapat meningkatakan mobilitas
PENATALAKSANAAN TERAPEUTIK
Pengobatan terapeutik ditujukan kearah perawatan penyakit atau kesakitan yang dihasilkan atau yang turut berperan terhadap masalah imobilitis dan penanganan konsekuensi aktual atau potensial dari imobilitas.  Contoh-contoh pendekatan terhadap penanganan imobilitas meliputi terapi fisik untuk mempertahankan mobilitas dan kekuatan otot, kompresi pneumatik intermiten dan kekuatan otot, kompresi pneumatik intermiten atau stoking kompresi gradien untuk meningkatkan aliran darah vena dan mencegah tromboembolisme, spirometri insesif untuk hiperinflasi alveoli, dan tirah baring, kecuali untuk eliminasi

MENGKAJI FUNGSIONAL
A.  KATZ Indeks
      Termasuk katagori yang mana:
Ø      Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian, pergi ke toilet, berpindah,dan mandi.
Ø      Mandiri semuanya kecuali salah satu dari fungsi diatas.
Ø      Mandiri, kecuali mandi, dan satu lagi fungsi yang lain.
Ø      Mandiri, kecuali mandi, berpakaian dan satu lagi fungsi yang lain.
Ø      Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, dan satu
Ø      Mandiri, kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain.
Ø      Ketergantungan untuk semua fungsi diatas.
Keterangan:
Mandiri: berarti tanpa pengawasan, pengarahan, atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskipun dianggap mampu.
B. Indeks ADL BARTHEL (BAI)
NO
FUNGSI
SKOR
KETERANGAN
1
Mengendalikan rangsang pembuangan tinja
0
1
2
Tak terkendali/tak teratur (perlu pencahar).
Kadang-kadang tak terkendali (1x seminggu).
Terkendali teratur.
2
Mengendalikan rangsang berkemih
0
1
2
Tak terkendali atau pakai kateter
Kadang-kadang tak terkendali (hanya 1x/24 jam)
Mandiri
3
Membersihkan diri (seka muka, sisir rambut, sikat gigi)
0
1
Butuh pertolongan orang lain
Mandiri
4
Penggunaan jamban, masuk dan keluar (melepaskan, memakai celana, membersihkan, menyiram)
0
1
2
Tergantung pertolongan orang lain
Perlu pertolonganpada beberapa kegiatan tetapi dapat mengerjakan sendiri beberapa kegiatan yang lain.
Mandiri
5
Makan
0
1
2
Tidak mampu
Perlu ditolong memotong makanan
Mandiri
6
Berubah sikap dari berbaring ke duduk
0
1
2
3
Tidak mampu
Perlu banyak bantuan untuk bias duduk
Bantuan minimal 1 orang.
Mandiri
7
Berpindah/ berjalan
0
1
2
3
Tidak mampu
Bisa (pindah) dengan kursi roda.
Berjalan dengan bantuan 1 orang.
Mandiri
8
Memakai baju
0
1
2
Tergantung orang lain
Sebagian dibantu (mis: memakai baju)
Mandiri.
9
Naik turun tangga
0
1
2
Tidak mampu
Butuh pertolongan
Mandiri
10
Mandi
0
1
Tergantung orang lain
Mandiri









TOTAL SKOR
Skor BAI :
20 : Mandiri
12-19 : Ketergantungan ringan
9-11 : Ketergantungan sedang
5-8 : Ketergantungan berat
0-4 : Ketergantungan total

PEMERIKSAAN PENUNJANG
·         Sinar –X tulang menggambarkan kepadatan tulang, tekstur, dan perubahan hubungan tulang.
·         CT scan (Computed Tomography) menunjukkan rincian bidang tertentu tulang yang terkena dan dapat memperlihatkan tumor jaringan lunak atau cidera ligament atau tendon. Digunakan untuk mengidentifikasi lokasi dan panjangnya patah tulang didaerah yang sulit dievaluasi.
·         MRI (Magnetik Resonance Imaging) adalah tehnik pencitraan khusus, noninvasive, yang menggunakan medan magnet, gelombang radio, dan computer untuk memperlihatkan abnormalitas (mis: tumor atau penyempitan jalur jaringan lunak melalui tulang. Dll.
·         Pemeriksaan Laboratorium: Hb ↓pada trauma, Ca↓ pada imobilisasi lama, Alkali Fospat ↑, kreatinin dan SGOT ↑ pada kerusakan otot.
Ø      Larangan
  • Hindari hilangnya sensasi.
  • Hindari stress: perasaan tertekan, depresi.
  • Bekerja yang terlalu keras.
Ø      Saran
  • Menggunakan terapi musik.
    • Mintalah terapi rekreasi untuk integrasi psikososial, resosialisasi, dan penyesuaian terhadap fungsi mandiri.
    • Berikan semangat pasien untuk berinteraksi dengan staf, pasien lain dan anggota keluarga.
    • Segera lakukan operasi bila keadaan pasien memburuk untuk menghindari kelumpuhan.
EPIDEMIOLOGI
Immobilisasi lama bisa terjadi pada semua orang tetapi kebanyakan terjadi pada orang – orang lanjut usia (lansia), pasca operasi yang membutuhkan tirah baring lama.
Dampak imobilisasi lama terutama Dekubitus mencapai 11% dan terjadi dalam kurun waktu 2 minggu, Perawatan Emboli Paru berkisar 0,9%,dimana tiap 200.000 orang meninggal tiap tahunnya.

PROGRAM  PENCEGAHAN JATUH DAN LUKA KARENA JATUH DIRUMAH PERAWATAN (PANTI) DAN DI RS (MILLER,1995
Ø      Identifikasi yang berisiko jatuh Selama pengkajian indentifikasi hal-hal yangmenjadi resiko (mis: obat-obatan, riwayat jatuh,penurunan kognitif, penurunan fs pergerakan,usia > 75thn)
Ø      Dokumentasi faktor resiko
Ø      Tentukan waktu untuk mengkaji ulang resiko(misalnya tiap shif, tiap hari, dst)
Ø      Gunakan kode warna pada pasien yang termasukdalam program ini.



PENDIDIKAN PADA STAF, PASIEN DANKELUARGA

Ø      Beri tahu pasien & keluarga tentang programpen cegahan jatuh dengan menggunakan brosuryang berisi informasi tentang mencegah danmembantu jika terjadi jatuh
Ø      Berikan pendidikan kesehatan. Pada staf tentangprogram, pencegahan jatuh & resiko untuk jatuh, terutama faktor-faktor yang dipengaruhioleh staf (penghalang, alas kaki)
Ø      Gunakan poster dan pamflet dan lakukanditempat tinggi yang mudah dilihat untukprogram pencegahan